Mengenal Sang Pendiri Adat Minangkabau "Datuk Perpatih Nan Sebatang"

QBeritakan.com
Senin, 28 Agustus 2023 | Agustus 28, 2023 WIB Last Updated 2023-08-28T11:26:29Z


QBeritakan.com - Tidak ada yang dapat mengetahui secara detail bagaimana bisa orang-orang yang berasal dari suku terpisah, menyatu menjadi suatu kaum yang kita kenal sebagai Suku Minangkabau.

Mungkin ada beberapa cerita legenda yang bagi mereka yang hidup di zaman modern, hanyalah sebuah mitos dan juga khayalan semata yang tidak pernah ada, walaupun tak pernah terlihat.

Tetapi untuk tokoh yang satu ini, bisa dikatakan sebagai tokoh 'Pemersatu', bukanlah penemu atau pendiri akan terbentuknya suku Minangkabau di Sumatera Barat, yaitu Datuk Perpatih Nan Sebatang.

Datuk Perpatih Nan Sebatang, adalah sosok yang legendaris dalam penyusun adat Minangkabau, dan beliau mendapatkan Gelar yang tertinggi dan setara tingkatan dengan Paduka Raja.

Gelar tersebut dinamakan, Datuak sebagai gelar untuk Paduka Raja yang berasal dari bahasa Minangkabau, sehingga beliau merupakan tokoh pemersatu yang jarang diketahui oleh generasi muda saat ini.

Datuk Perpatih Nan Sebatang, merupakan anak dari pasangan Cati Bilang Pandai dan Puti Indo Jelita, dia juga bersaudara dengan Datuk Ketumanggungan yang masih satu ibu tetapi beda ayah

Gelar Datuk Perpatih Nan Sebatang, saat ini diabadikan menjadi nama sebuah jalan di Kota Solok, dan sekarang, konon karena tokoh ini sangat berjasa bagi masyarakat Solok di bidang pertanian.

Gelar tersebut, juga diturunkan oleh pemahaman yang beraliran Bodi Caniago, yaitu suatu metode ajaran yang ditanamkan dan ditegakkan oleh Masyarakat Minangkabau hingga saat ini.

Datuk Perpatih Nan Sebatang, membangun metode pemahaman bernama, Lareh Bodi Caniago yang merupakan sistem adat Minangkabau yang bertumpu kepada musyawarah dan mufakat.

Ajaran ini Datuk Perpatih Nan Sebatang, berlaku di hampir seluruh wilayah penduduk Minangkabau, seperti di Kabupaten Luhak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Kabupaten Kerinci, Negeri Sembilan, dan sebagian di daerah selat Malaka.

Lareh Bodi Caniago, berasal dari Bahasa Sanskerta yaitu, bodhi, catni, dan arga, yang artinya adalah puncak pemikiran yang gemilang, dan awal penyebaran sistem adat ini, di Limo Kaum, Kabupaten Tanah Datar.

Pucuak Bulek (Junjungan Adat) ini adalah Datuak Bandaro Kuniang berada di dalam Ranji Limbago Adat Alam Minangkabau, yang bergelar Gajah Gadang Patah Gadiang dan berkedudukan di Kubu Rajo, Kabupaten Limo Kaum.

Ada beberapa ciri-ciri utama dalam ajaran Lareh Bodi Caniago, yang mengajarkan kita untuk hidup berdampingan, tanpa membedakan hal-hal seperti dibawah ini.

"Kato surang dibuleti, kato basamo kato mufakat. Lah dapek rundiang nan saiyo, lah dapek kato nan sabuah. Pipiah nan indak basuduik, bulek nan indak basandiang. Takuruang makanan kunci, tapauik makanan lantak. Saukua mangko manjadi, sasuai mangko takana. Putuih gayuang dek balabeh, putuih kato dek mufakat".

Atau jika diartikan, maka tulisan tersebut adalah "Kata seorang dibulati, kata bersama kata mufakat. Sudah dapat berunding yang bilang ya, dan sudah dapat kata yang setuju. Pipih tidak bersudut, bulat tak bersanding. Terkurung makanan kunci, terpaut makanan lantak. Seukur maka terjadi, sesuai maka dipasangkan. Putus gayung karena belebas, putus kata karena mufakat."

Sehingga dapat disimpulkan bahwa, dalam menyelesaikan suatu masalah atau membangun rencana, harus dilakukan secara bersama-sama, tanpa ada yang menentang karena perbedaan pendapat.

Selain itu, semua aturan adat dibuat oleh pimpinan suku bersama dengan rakyat, harus melaksanakan peraturan tersebut dengan senang hati, dan apabila ada yang melanggar aturan, maka tidak langsung dihukum berat.

Melainkan diproses seperti halnya diinterogasi di masa sekarang, dan itu yang membuat aturan adat semacam ini bisa saja bertahan lebih lama, walaupun saat ini tidak pernah ditunjukkan secara terbuka.

Dan ini juga berlaku di hampir seluruh di wilayah yang memiliki budaya khas Minangkabau, seperti Kabupaten Luhak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Kabupaten Kerinci, Negeri Sembilan, dan sebagian Malaka.

Bodi Caniago berasal dari Sanskerta yaitu, bodhi, catni, dan arga, dengan artinya puncak pemikiran yang gemilang, wilayah awal penyebaran sistem tersebut yaitu di Limo Kaum, Kabupaten Tanah Datar.

Sehingga, ini merupakan aturan yang diutamakan dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, tetapi rakyat patut berterima kasih kepada Datuk Perpatih Nan Sebatang yang membuat Sumatera Barat bertahan hingga sekarang.

Jasa Datuk Perpatih tidak akan pernah lupa bagi dalam ingatan orang Minang yang dituturkan secara turun temurun, dan Aliran Bodi Caniago dibentuk untuk melawan sistem pemerintahan yang otoriter dan aristokrasi yang dibangun oleh saudaranya, Datuk Ketumanggungan.

Tentu kita patut berbangga hati dengan sosok Datuk Perpatih Nan Sebatang, yang telah berjasa menyatukan perbedaan orang-orang dari berasal desa dan wilayah berbeda untuk menyatukan diri sebagai suku Minangkabau.***

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Mengenal Sang Pendiri Adat Minangkabau "Datuk Perpatih Nan Sebatang"

Trending Now