SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA

Slogan yang tentunya belum terbiasa dipahami terutama bagi generasi yang menikmati PMP atau Penataran P4.
Macam persepsi para teman di medsos soal ini. Mulai dari soal penggunaan istilah hingga (kembali) nyrempet2 sedikit ke urusan agama, seolah harus ada urutan antara mengimani Pancasila dan agama dalam hidupnya.

Lalu apa sebenarnya makna slogan ini dipakai pada Pekan Pancasila yang dimulai pada HUT Grace (boruku) hingga 4 Juni nanti?

1 Juni 1945, ketika Bung Karno begitu berapi-api dalam pidato fenomenalnya, itu lalu dianggap sebagai puncak galian kepribadian bangsa. Sebuah identifikasi jiwa anak-anak nusantara yang kemudian dikonfirmasi dengan tepuk tangan dan kurangnya sentimentil perdebatan ideologi, yang kelak menjadikan Pancasila sebagai dasar, yang sebelumnya sangat sengit dan saling ancam untuk tidak bergabung dalam proklamasi.

Momentum 1 Juni adalah momentum perayaan jiwa besar kita sebagai bangsa. Di mana Bung Karno juga memanifestasi kepribadian bangsa sebagai GOTONG-ROYONG. Sebuah karakter, budaya, dan sekaligus jiwa bangsa yang selalu bersama dan berjuang bersama dengan keberagaman peran, kepentingan, bahkan iman. Suatu kepribadian bahkan budaya yang membuat dunia luar tercengang, bagaimana bisa? Sukarno begitu menyadari hal ini, dan Gus Dur pernah mengingatkan kita, bahwa dalam pikiran kita terpendam kearifan Bhinneka Tungga Ika sebagai buah berabad-abad peradaban yang ada di Nusantara. Jadi Pancasila bukan identitas baru, namun ia adalah cara sejarah melalui Bung Karno,menjembatani jiwa dan identifikasi kita sebagai sebuah bangsa yang harus diakui dunia lalu menjadi Indonesia.

Kali ini negara ingin mengingatkan kita, bahwa Pancasila itu bukan sekedar ideologi atau dasar negara. Tapi ia adalah jiwa kita semua sebagai anak-anak nusantara. Ia adalah budaya atau kepribadian kita yang membuat kita diakui dunia. Pancasila tidak ada tanpa kita, karena di dalam diri kitalah ia hidup. Kitalah Pancasila sebenarnya, sehinga Saya lah Pancasila dan Sayalah Indonesia.

Pendalaman Pancasila ndak musti hapal butir2 ciptaan sejarah orba, kerana ia tidak bisa dijiwai dengan hapalan, melainkan dengan rembug pengalaman hidup dalam semangat persaudaraan. Pancasila juga bukan paham atau isme yang bisa diadopsi entitas lain di bumi ini selain anak-anak nusantara. Karena ia bukan paham yang bisa disebarkan. Ia hanya bisa dijiwai karena kita menemuinya, mengenalnya lebih dekat lalu masuk ke dalam dirinya dan merasaka  nyamannya jiwa yang bijaksana karenanya.
Karenanya, hanya kitalah Pancasila itu.
Saya lah Pancasila itu
Saya Indonesia.

Bagi saya slogan ini penting.
By_Bernando sinaga
#SayaPancasilaSayaIndonesia


Terimakasih atas kunjungan Anda di Q-BERITAKAN. "Bagi yang Berminat menulis di Q-BERITAKAN?. Punya Pengalaman Unik dan Menarik, atau ingin Berbagi Cerita, Berita, Informasi, Senibudaya dan informasi lainya. Silahkan Kirim tulisan anda ke e-mail: prasetyo.budi3@gmail.com atau Melalui Contact Us di bagian atas.
Share on Google Plus

About Prasetyo Budi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Post a Comment