Undangan Merah Jingga

Hari ini 15 januari 2017, aku mendapatkan panggilan telp dari seseorang yang no hp nya gak ada di phone book aku, suaranya terlihat parau dari seberang sana, yang mengabarkan kepadaku bahwa aku mendapat undangan dari seseorang.
" Hallo Asalamualaikum " Suara dari seberang sang penelepon.

" Waalaikum salam, maaf siapa ya " Tanyaku kepadanya melalui hand phone.

" Ini sahabatmu Bang, aku tadi mampir ketepat kos abang, tapi pas mau ku ketuk pintu, sepertinya abang masih tidur, jadi aku batalkan untuk mengetuk pintu kos abang " jelas dia kepada aku.

" O... memang ada perlu apa ya mbak ?!" tanyaku.

" Itu bang aku tadi mengantar undangan buat abang, karena gak enak mau bangunin abang itu undangannya saya taruh didepan pintu kos abang, maaf ya bang saya cuma menyampaikan itu, trimakasih, wasalamualikum " kata sang penelepon dengan nada datar menjelaskan dan lang sung menutup telpnya tanpa menghiaraukan aku yang belum sempat menayakan undangan tersebut dari siapa.

Aku bangkit dari tempat tidurku yang memang dari pagi tadi bermalas-malasan untuk bangun dari tempat tidur, aku langsung menuju pintu dan membuka pintu kamarkos, benar saja sebuah Kartu undangan terbungkus plastik mewah dengan warna merah jingga terletak dilantai tapat depan pintu  

Kubuka sampulnya lalu kubaca, dibawah tulisan Mohon Doa Restu tertulis nama yang tidak asing bagiku, nama yang selama ini mengisi hari-hariku disini, nama yang selalu hadir dalam mimpi dan sadarku, nama yang sampai undangan ini berada ditanganku masih terukir rapi dihatiku. Hancur hatiku terasa seorang yang aku cinta akan segera melangsungkan hari pernikahan dengan pria pilihan orang tuanya.

Perih hati ini terasa teriris menerima kenyataan yang terjadi, ahir dari kisah cinta ku yang terpaksa harus hancur karena tiada restu orang tuanya. ahc... sudahah semua ini sudah takdir dari yang maha kuasa, satu hal yang sudah ku lakukan untuk memperjuangkan cinta dan mimpi ku yang harus berhadapan dengan tembok raksasa yang tak bisa aku tembus. biarlah cinta memang tidak harus memiliki, satu yang pasti aku bersukur telah dipertemukan dengan dia, perempuan yang sempurna, perempuan yang telah mewarnai kehidupanku dengan cinta semerah senja dengan mega-mega jingga seperti undangan yang diakirimkan kepadaku.
Undangan merah jingga bukti aku telah kalah dalam pertempuran yang selama ini aku lakukan untuk mendapatkanmu, undangan yang mengakhiri langkahku untuk mengarungi hidup yang pernah kita rangkai dan kita impikan bersama.

Lama aku pandang undangan ini, tak terasa bulir-buliran air menetes dari sela pojok pelopak mataku, kenangan yang telah kita lewati selama ini semua seakan hadir memenuhi setiap sudut pandanganku, dan aku sadar betapa aku mencintaimu, dengan sepenuh hatiku, betapa aku menyayangimu lebih dari apa yang engkau tau... inginku bahagiakan dirimu setiap saat bersamaku, seperti jajniku kepadamu takan pernah kuingkari, aku yang selalu ada didekatmu aku kan selallu menemani harimu, kau harus tau betapa aku mencintaimu.

sayang teriirng air mataku aku hanya bisa berdoa, semoga engkau bahagia selama-lamanya bersamanya. aku ucapkan terimakasih telah mengisi hariku disini sekalipun tanpa ahir sebuah penyelesian tentang mimpi-minpi kita, aku sadar dan sangat sadar bahwa inijalan kita, jalan yang harus kita jalanisendiri-sendiri, jalan yang harus aku tempuh walau tanpamu, jalan yang harus aku lalui tanpa canda, cinta dan sayangmu disini.


Terimakasih atas kunjungan Anda di Q-BERITAKAN. "Bagi yang Berminat menulis di Q-BERITAKAN?. Punya Pengalaman Unik dan Menarik, atau ingin Berbagi Cerita, Berita, Informasi, Senibudaya dan informasi lainya. Silahkan Kirim tulisan anda ke e-mail: prasetyo.budi3@gmail.com atau Melalui Contact Us di bagian atas.
Share on Google Plus

About Prasetyo Budi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Post a Comment