Agama, Karunia Terindah Umat Manusia yang Terabaikan


Q Beritakan. By_Bernando Sinaga. Saya termasuk orang yang pernah bertanya juga, bila agama memang untuk perdamaian, lalu kenapa ada banyak konflik karena agama? Ndak usah soal terorisme yang ada warna-warna konspiratifnya, yang jelas saja, sekitar seribu tahun lalu saja, Paus Urbanus mengumandangkan peperangan.

Lalu kini, ngetrend istilah teroris. Identifikasinya seolah-olah Islam adalah teroris. Ha ha ha, saya bayangkan teman-taman akrab saya dulu yang muslim adalah teroris. Misalnya Dian Ihkwan Sutan Marajo, bawa bom pergi ke Plaza Andalas. What??? Dengar mercon saja dia langsung ngedumel, dengan kalimat-kalimat yang diucapkan sangat cepat, yang saya merindukannya.

Lalu, ada yang berdebat soal akar masalah konflik. Antara individu atau agamanya? Yang simple (nanti dibilang awam kok terkesan saya sok expert) jelas meyakini masalahnya ada pada orangnya. Yang rumit (kalo dibilang expert nanti saya terkesan bego), mencoba mengkaji secara sangat mendalam, ketemu, agama nya ternyata yang bermasalah. Ha ha ha, lalu mereka yang bukan pelaku konflik ini menimbulkan konflik baru pada tataran pemahaman. Saling maki, saling tuding dan seterusnya.

Suasana nggak jelas ini juga terjadi di alam pikir orang Kristen juga. Begitu PGI mengeluarkan surat pastoral tentang LGBT, medsosnya langsung rame serame-ramenya. Termasuk saya juga ribut di situ. Ha ha ha... 



Lha gimana nggak? Yang diomongin realitas Lesbi, Gay, Homo, dan Transgender, referensinya Sodom dan Gumorah. Ya bingung saya, entah di negara mana letak kota ini, apa mata pencaharian masyarakatnya, siapa wali kotanya, saya ndak tahu. Tapi saya dipaksa tahu tanpa dijelaskan informasi2 itu. Itu kan sama saja dengan guru maksa murid ngerti, yang murid nggak ngerti2 lalu ditabok. Si murid lapor komnasham, si guru dipenjara. Lalu si murid dikeluarkan dan di mana2 nggak diterima lagi... Kan, sedih kan?

Coba bandingkan dengan Imam Ali Bin Abi Thalib yang katanya pernah memberi advice untuk bumi ini. Kira2 bermakna begini, yang bukan seiman denganmu, anggaplah ia saudara mu dalam kemanusiaan.
Nah, indah kan? Adem kan? Saya yakin, jangan-jangan ini adalah inspirasi yang membuat Bunda Theresa melayani sepenuh jiwa di India sana. Kalo pun tidak begitu, anggap sajalah begitu. Dari pada kita berdebat dalam perspektif historis yang sama-sama kita ragukan kevalidannya. Ini juga seru, banyak yang mengatakan bahwa sejarah ditentukan oleh penguasa. Lah, dengan saya membuat pemahaman baru tentang sejarah dan itu di luar pemahaman yang dikehendaki penguasa, kan hebat dong saya melawan penguasa.



Tapi saya tidak mau mengkritik dan melawan Tuhan. Biarlah Tuhan berkehendak atas segalanya. Menghendaki agama yang beragam lalu menakdirkan manusia berakal yang kemudian berdebat bahkan berperang atas nama agama. Dan sejauh ini, Dia tetap tak mau membuka dengan resmi kepada dunia tentang apa agama yang paling disukainya. Atau mungkin apa agama yang dianutNya. Sehingga pertanyaan yang pernah diajukan oleh kaos oblong buatan Interfidei Jogja tak juga kunjung di jawabNya. Tapi atas izinnya, yang pake kaos pernah dapat masalah dikasi pelajaran oleh "suruhan" Nya. Saya yakin itu karena agama tidak boleh dipertanyakan sebagai identifikasi sesuatu. Akan diazab oleh Tuhan. Itu di kaos oblong, apalagi di kartu sakral bernama KTP yang kata Gamawan Fauzi ada huruf e kecil di belakangnya. Btw, katanya agama berasal dari "a" dan "gama". Berarti tahu dong beda agamawan dengan Gamawan. Agamawan itu orang paham agama sedangkan Gamawan adalah mantan mendagri Republik Indonesia, gitu dia.

Back to topik.
Lantas sampai kapan perdebatan soal agama ini akan berlangsung? Saya ndak mampu sendirian menjawabnya. Karena aku lemah tanpa mu, kawan. Bersama kita bisa, demikian dikumandangkan tahun 2004. Dan faktanya itu Dilanjutkan pada tahun 2009. Beda dengan Pilkada Mentawai saat ini, yang satu ngomong bersama kita bisa, yang satu ngomong dilanjutkan. Kita lihat saja nanti hasilnya, mana yang lebih penting, antara kebersamaan, kelanjutan atau mungkin malah persahabatan. Soal Mentawai, saya rasa Bung Jonar Tamba Siappudan dan Bung Fatijiduhu Halawa bisa lebih memaparkan dengan gamblang.

Kok sampai2 ke Mentawai? Entahlah, belakangan ini saya selalu mentok ke Mentawai. Mikir soal apapun selalu berujung ke Mentawai. Entahlah, negeri yang satu ini memang luar biasa. Kampung2, tapi kunjungan bule ke sini adalah terbesar dibanding semua kabupaten kota di Sumatera Barat. Bule gendeng, kalo kami semua khawatir berlayar dalam keadaan badai, mereka malah bergembira dan membayangkan ombak besar. Bali? Heh, lewaaaat. Anda mau pake tattoo apapun, tak lengkap kalo tak ada tatto dari Mentawai. Konon katanya tattoo Mentawai tertua di dunia. Akh, Mentawai memang aduhai.

Tapi masih banyak kemiskinan di sana. Ombaknya tak sebanding dengan perekonomian masyarakatnya. Menggambarkan keadaan itu temanku yang di HP kutulis namanya Achai, di facebook bernama Motto Ernest Simanjuntak menggunakan istilah lapaaarrr. Itu jumlah huruf a dan r nya memang sebanyak itu ya.



Nah ketemu! Ketemu masalah untuk menjawab celoteh di atas. Lapar. Yah, lapar. 
Menurut lae Achai, lapar mengakibatkan ketidaknyamanan yang lalu memunculkan kebingungan dan berujung pada kekacauan. 
Bagi saya, setuju dengan itu adalah keharusan. Oleh karenanya pendekatan yang paling mungkin adalah distribusi sumber daya.



Jangan panggil saya komunis karena bicara soal distribusi sumber daya. Karena kemudiannya saya akan dicap tak berTuhan. He he he... Distribusi sumber daya haruslah merata sehingga ketimpangan sosial materil bisa dipersempit. Dalam kondisi ini, "orang lapar" akan terminimalisir. Karena mereka akan sibuk bekerja mengoptimalkan produktifitas sumber daya yang mereka miliki.
Ketika waktu bekerja semakin banyak, waktu merenung seperti yang saya lakukan saat ini akan berkurang. Termasuk merenungi nasib yang tak jelas. Akibatnya : ketika sensitivitas publik soal keagamaan dibangun, tinggal sedikit orang yang memberi perhatian. Jualannya nggak laris atau malah nggak laku.

Proses produksi dengan basis sumber daya tadi, akan berjalan secara akumulatif. Akumulasi produktifitas tentu berbanding lurus dengan akumulasi pendapatan. Berbanding lurus pula dengan besaran persembahan ke gereja atau kotak infak mesjid akan full.

Instrumen pada institusi agama akan dapat bekerja karena kebagian sumber daya. Mereka pun tenang, sehingga produktivitas kearifan dari agama berjalan baik dan menghadirkan petuah2 yang mendamaikan. Kalau sudah begini, emas di Papua pun bisa penuh milik Indonesia, karena sarjana-sarjana teknik mengisi ruang2 diskusi berkaitan dengan dunia engineering di organisasi ekstra kampus, bukan diskusi soal kepedulian sosial lagi. Selaraslah kemampuan akademik dengan pola pengkaderan ekstra kampus. Akibatnya sarjana2 Indonesia mampu mengoperasikan mekanisasi tambang di Papua misalnya. Secara kerakyatan akhirnya ekonomi hidup dan secara korporasi juga mapan.

Kalo masih sinting dengan istilah korporasi tinggal dirubah saja jadi koperasi. Selamat jalan Freeport, Chevron, dan sebagainya. Bayangkan akumulasi ekonomi ini kelak. Koruptor pun malu korupsi, karena untuk apalagi korupsi? Mau pamer berlian indah? Wong isteri petani pisang saja sudah pake berlian???

Kalo sudah begini, kita baru bicara soal agama lagi. Dengan kemampuan akibat distribusi sumber daya yang merata, perbincangannya bukan lagi soal ISIS, kafir, Tolak LGBT, mencari akar masalah konflik agama dan sejenis2 itu. Tapi lebih kepada bagaimana kita melakukan charity untuk orang2 kelaparan di Afrika sana. Indahkan?

Kalo diteruskan akan panjang. Sama2lah kita mulai go to kampung. Ternak bebek, babi, sapi, tanam pisang, keladi dan seterusnya.
Karena feeding the world lebih layak menjadi cita-cita. Sebuah karunia yang terpenuhi atas kehadiran agama, mestinya. Bicara agama dalam konteks formalisasi biarlah urusan para agamawan. Sari-sari formalisasi, biarlah tumpah atas kita sebagai nilai-nilai juang untuk mengakar di kampung seperti Mentawai.

Agama adalah karunia terbesar. Termasuk agama Arat Sabulungan.
Imam Ali Bin Abi Thalib juga pernah meragukan orang-orang baik namun berdiam diri, sehingga dunia terkesan jahat.

Benarkah dunia semakin buruk karena orang baik berdiam diri? Tidak ikut campur dalam perdebatan agama memang baik, tapi trend orang baik dalam berkarya juga harus kita buat. Supaya agama dalam pemahaman orang baik yang pro perdamaian dan kesejahteraan, tidak terabaikan.

Baca Juga : 


Terimakasih atas kunjungan Anda di Q-BERITAKAN. "Bagi yang Berminat menulis di Q-BERITAKAN?. Punya Pengalaman Unik dan Menarik, atau ingin Berbagi Cerita, Berita, Informasi, Senibudaya dan informasi lainya. Silahkan Kirim tulisan anda ke e-mail: prasetyo.budi3@gmail.com atau Melalui Contact Us di bagian atas.
Share on Google Plus

About Prasetyo Budi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

2 komentar:

  1. Sekarang lagi marak-marak nya teroris ya kang tapi bukan berarti islam itu teroris lhoo.. itu hanya orang yang berpikiran pendek saja yang berniat menjadi terorisme..

    ReplyDelete
  2. pengabaian manusia pada agama yang telah banyak membuat para manusia menjadi khilaf, nih contohnya saya ini, walaupun pengabaianku tidak sangat terlalu juga sih perasaan mah

    ReplyDelete