JALANI KISAH SEMBUNYI

Ahhh...Aku kesulitan untuk masuk dalam kisah ini. Kesulitan menentukan tokoh-tokohnya, setting suasananya, setting lokasinya, alur kisahnya dan semuanya. Padahal Nhuii sudah lengkap menceritakan semuanya padaku, tapi tetap saja aku merasa kesulitan dan mendadak ingin mundur dari menuliskan kisahnya.

"Nggak usah buru-buru, mas. Santai saja" katanya.

Santai sih..tapi ribuan kata sudah bergumpal-gumpal di kepala. Sudah seperti benang kusut yang minta diurai. Berantakan. Sungguh berantakan, berjejal-jejalan. Seolah baru selesai mentransfer semua energi negatif dalam jiwanya, Nhuii malah terlihat santai dan tenang. Senyum dan tawanya tetap lepas dan riang. Ah, senyum itu, siapa sangka dibaliknya ada kisah hidup yang sungguh menyedihkan.

Bapak ibunya meninggal dalam musibah tsunami Aceh 2004. Begitu juga keluarga besarnya yang saat itu tengah mempersiapkan perhelatan pernikahannya. Dan suami yang baru beberapa jam dinikahinya ditemukan tersangkut di dahan pohon dalam keadaan membusuk.

Tak tahan aku membayangkannya. Aku bangkit dan mengajaknya pulang menyudahi makan malam romantis yang berakhir dengan sangat tidak romantis. "Yuk ah kita pulang saja" ajakku sambil menggapai lengannya. "Iya, besok kita mesti kumpul pagi-pagi kan dan gowes seharian. Jangan begadang malam ini" katanya masih dengan wajah riangnya itu.

Aku mengantarkan Nhuii ke mess tempatnya menginap dan bergegas pulang. Sampai di rumah istriku membukakan pintu dengan wajah mengantuk. Aku masuk saja tanpa berkata apa-apa. Dia juga tak bicara dan kembali tidur seolah dia orang asing yang bertugas membukakan pintu tanpa pernah ingin tahu dari mana dan apa yang kulakukan.

Bukannya tidur aku malah sibuk menyiapkan isi ranselku untuk gowes besok dan koper untuk kembali ke Bogor malamnya. Di kepalaku masih terbayang cerita Nhuii. Terbayang derasnya banjir yang menyapu kotanya dan mayat-mayat bergelimpangan tertutup lumpur. Kucoba meresapi perasaan Nhuii saat itu.

Pagi-pagi sekali aku sudah tiba di Sekretariat komunitas sepeda dan membantu persiapan tour bike kami hari ini. Celoteh teman-teman peserta gowes ampuh membangkitkan semangat pagi ku. Sesi foto-foto sudah dimulai untuk dokumentasi dan sekalian ajang narsis.

Hari ini kami bersepeda menelusuri dinginnya aspal dengan pemandangan misty gunung Tanggamus. Jatuh bangun di kubangan lumpur jalan setapak menuju Air terjun Way Lalaan. Menyeruak di sela belukar yang menutupi jalan yang sepertinya lama tak terpakai karena sudah ada trek baru menuju kesana yang bisa dilalui mobil. Kami sengaja menempuh trek yang lama menuju sisi lain karena lebih menantang.

Dan setelah satu jam lebih bersepeda kami tiba di air terjun Way Lalaan yang terletak di Desa Pekon Kampungbaru, Kecamatan Kotaagung Timur, Kabupaten Tanggamus, Propinsi Lampung. Dengan peta dan Koordinat GPS: 5° 29' 6.86" S 104° 41' 24.90" E (sumber : Google ).

Masih dengan baju basahnya Nhuii menghampiriku di shelter. Meraih handuk disebelahku dan mengeringkan tubuhnya.

"Kok nggak mandi mas?" tanyanya. "Rugi lho jauh-jauh datang kesini gak pakai nyebur"
"Nanti" jawabku singkat. 

Kuambil gitar yang dibawa Fuad dan menyetel senarnya yang agak fals. Nhuii duduk disampingku dan mulai menyanyi.
Sepanjang kita masih terus begini
Takkan pernah ada damai bersenandung Kemesraan antara kita berdua Sesungguhnya keterpaksaan sajaSenyum dan tawa hanya sekedar saja Sebagai pelengkap sempurnanya sandiwara...

Belum habis lagu 'Kucari jalan terbaik' nya Pance F Pondaag itu dinyanyikannya pikiranku sudah melayang kemana-mana. Teringat kisah hidupku sendiri yang sangat mirip dengan lagu itu. Rasanya jadi pingin nangis tapi malu. Jadi aku menangis saja dalam hati. Semoga tak ada yang mengintip.

"Heii!!! kok malah melamun sih maaas" Nhuii menepuk bahuku. Aku tersenyum malu.
"Katanya mau gantian cerita. Aku sudah cerita kisah hidupku. Mana kisah hidupmu yang katanya menyedihkan itu?"
"Nggak jadi ah, Nhuii" elakku.
"Aaah mas Harrie curaaaang" teriaknya memukuli bahuku. Lagi-lagi aku hanya tertawa terbahak-bahak.

Kisah hidupku baru saja kau nyanyikan, Nhuii. Bisikku dalam hati. Hidup berumah tangga dengan perempuan yang tak pernah kucintai. Bertahun-tahun kutunggu rasa itu tapi hingga kini tak pernah tumbuh juga.

Tak benar pepatah jawa yang mengatakan cinta tumbuh karena seringnya bertemu. Setidaknya itu tidak terjadi padaku. Justru yang benar adalah kata-kata Kahlil Gibran bahwa 'cinta adalah keterpautan jiwa, jika itu tak pernah ada maka cinta tak kan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad'.



Kalaupun kami saat ini masih bersama itu hanya keterpaksaan saja. Kami lebih banyak hidup terpisah. Aku sering berpindah tugas ke luar kota dan dia lebih suka tinggal di rumah kami di Lampung. Sesekali aku pulang itupun hanya untuk urusan kantor atau bersepeda dengan komunitas sepedaku. Kalau bertemu pun kami tak pernah lagi saling bicara bahkan hanya untuk sekedar bertukar kabar.

Kami sudah terlalu lelah bertengkar tapi tetap tak bisa memilih perceraian sebagai jalan keluar dan memilih zona aman seperti sekarang. Tidak saling ganggu dan tidak saling perduli. Aku memenuhi kewajiban sebagai kepala rumah tangga dengan mencari nafkah. Dia menjalankan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga yang mengurus rumah, atau sebagai pendamping di pesta, dan istri di mata masyarakat saja, selebihnya kami hidup sendiri-sendiri seperti tak pernah saling mengenal. Entahlah...hidup macam apa ini.

Aku malu mengisahkannya padamu Nhuii. Biar saja kujalani kisah ini sembunyi-sembunyi. Ternyata beban hidupmu jauh lebih berat. Tapi kamu tetap bersemangat, optimis, tak pernah mengeluh dan selalu bahagia. Jiwa mu tetap hangat bersahabat. Maaf juga, aku masih belum bisa menuliskan kisahmu. Kita pending saja dulu ya Nhuii. Aku masih harus banyak belajar padamu tentang bagaimana caranya menjalani jalan terbaik yang kupilih ini.. hidup dengan selalu penuh rasa syukur.

Terimakasih atas kunjungan Anda di Q-BERITAKAN. "Bagi yang Berminat menulis di Q-BERITAKAN?. Punya Pengalaman Unik dan Menarik, atau ingin Berbagi Cerita, Berita, Informasi, Senibudaya dan informasi lainya. Silahkan Kirim tulisan anda ke e-mail: prasetyo.budi3@gmail.com atau Melalui Contact Us di bagian atas.
Share on Google Plus

About Prasetyo Budi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

17 komentar:

  1. Ada banyak kata yang dapat saya pelajari dan saya temukan pesan-pesan di dalam artikel ini seperti walaupun beban hidup teramat sangat berat tetapi kita harus menjalaninya dengan semangat serta jangan mengeluh dan juga selalu bahagia dan bersyukur :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali mas bro... Intinya kita haeus selalu bersukur! Karena apapun yang Tuhan berikan Pastinya yang terbaik buat kita.

      Delete
  2. Menjalani hidup memang harus penuh rasa syukur bang, karena semua yang kita alami ini sudah ada yang menentukan, kita hanya diwajibkan berusaha meraih yang terbaik sesuai kemampuan kita..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju kang saya sama kang maman....

      Delete
  3. gunung tanggamus itu saya tertarik sekali dengan namanya mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gunung itu mbak... Bukan Gunung Tetangga mbak mus.. Xi xi xi

      Delete
    2. itu mah gunung-gunungan bang, hahaha...

      Delete
  4. dari awal saya suka ceritanya mas bikin penasaran, dan diakhir baru tahu intinyadari sang pencerita, ia memang harus bersyukur lalu nikmat ditambah mas
    maju terus penulis indonesia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trimakasih mbak udah membaca sampai ludes he he he... Jayalah penulis indonesia..

      Delete
  5. Banyak orang yang sudah diberi kenikmatan , dan kelapangan lalu lupa untuk bersyukur Seolah lupa segalanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kang asep kebanyakan seperti itu..

      Delete
  6. Pepetah jawa mengenai cinta, kalah sama kata-kata kahlil gibran ya kanggg,,, realitanya gitu yang terjadi hehehehehe :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya kang tapi kan buat kusah saya kang... He he he mudah mudahan tidak dengan yang lain.!

      Delete
    2. Pepatah cinta cu patkay kang "cinta deritanya tiada akhir"
      Itu juga gak kalah dari kahlil gibran

      Delete
    3. Ele ele eleh betul juga atuh mbak... Derita tiada ahir ya wk wk wk wk

      Delete
  7. Iya iya iya ternyata ceritanya membuat saya berhenti menggaruk garuk layar monitor kang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha tuh awas rontok kadas monitirnya kang !

      Delete