HUJAN..NYANYIAN RINDU LANGIT KEPADA BUMI

Pagi-pagi sekali hujan datang. Sedemikian rindunya kah langit kepada bumi hingga mengawali hari ini dengan nyanyiannya. Udara jadi dingin dan rhinitis-ku kambuh. Aku bersin-bersin belasan kali sampai perut jadi kencang karena kontraksi. Tapi ya Alhamdulillah..karena lebih tak enak lagi kalau tidak bersin. Hidung jadi gatal dan dada sesak rasanya. Bersin itu malah bikin plong. Tapi kalau sudah belasan kali lelah juga sih. Dan kelihatan lucu kadang.

Aku teringat saat Phoe tertawa terbahak-bahak melihatku yang terpental kesana kemari karena bersin. Huh..sebal. Orang lagi tersiksa kok diketawain. Kalau aku sudah cemberut kesal ditertawai dan hampir menangis karena sakit dipangkal hidungku dia akan memelukku, mengusap pundakku berusaha menenangkanku. Tanpa berkata apapun. Dan pelukannya itu memang menenangkan. Saat rhinitis-ku kambuh aku memang dianjurkan untuk tidakpanik dan emosi. Karena bisa bikin tambah parah, berlanjut dengan hidung mampet karena konka yang membesar akan menutup jalan nafasku. Bisa tambah lemas aku.

Dimana kamu sekarang Phoe? Apa kabar mu? Sudah berapa lama ya kita tidak berkomunikasi? Terakhir kudengar Phoe sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan seorang penyiar radio di kotanya. Akun medsos-nya menghubungiku.

"Maaf..kamu siapanya Phoe?" katanya via inbox.

"Aku temannya" jawabku sambil mengira-ngira siapa yang sedang memakai akun Phoe ini.

"Aku calon istrinya Phoe"

Hmmm..baru calon ternyata. Sudah se-posesif ini tapi yak.

"Kami akan segera menikah bulan depan. Kuharap tak pernah adalagi kontak diantara kalian. Saya mohon dengan sangat" lanjutnya. Aku tertawa dalam hati.

Kenapa wanita ini ketakutan dan berusaha memprotek lelaki yang sudah menentukan pilihan padanya dengan cara seperti ini. Akan ada berapa perempuan yang dikiriminya pesan seperti padaku? Alangkah akan melelahkan dirinya jika harus menjaga lelakinya dengan cara seperti itu. Kenapa dia tidak sibuk saja mempersiapkan dirinya untuk menjadi pantas dicintai dengan ketulusan dan kesetiaan. Ah..pasti dia punya alasan sendiri untuk melakukan hal ini. Terserahlah. Toh bukan hal yang sulit buatku karena memang hubunganku dengan Phoe memang sudah selesai. Kalaupun masih berkomunikasi itu hanya pertemanan belaka. Itupun hanya sesekali. Tidak se-intens saat kami masih pacaran.

Aku mengenal Phoe di acara pertunjukan seni di Tasikmalaya. Dia seorang pemain teater. Saat itu aku sedang libur panjang di kampung halaman kakak iparku. Libur panjang yang sangat panjaaaaang sekali sampai hampir saja aku memutuskan untuk menetap di desa kecil di kaki gunung Galunggung itu. Kalau saja kakak sulungku tidak mencak-mencak begitu tahu aku menjalin hubungan dengan seorang seniman miskin.

"Pokoknya kamu pulang!" teriaknya saat mendengar dari Ambu dan Apak kalau aku ingin menetap disana dan pacaran dengan Phoe.

"Aku membawamu tinggal di rumah Apak dan Ambu supaya kamu konsentrasi belajar untuk mempersiapkan diri masuk perguruan tinggi negeri yang dipilih papi" ujar kakak.  "karena kalau di Bandung kamu liar maen melulu. Sibuk menjelajah gunung sana sini dengan kelompok bengalmu itu. Belum lagi hobi dugemmu yang mulai kelewat batas dan tak kenal waktu"

Apak dan Ambu berprofesi sebagai guru. Tinggal di pedesaan yang nyaman dan sunyi. Kakak berharap dengan  tinggal sama mereka aku bisa sedikit lebih jinak. Kebetulan Apak dan Ambu juga tinggal berdua saja sejak anak-anaknya menikah dan tinggal di kota lain.

Sejak tinggal di Singaparna aku memang jadi lebih jinak. wew..macan kalee. Aku jadi betah dirumah karena suasananya memang nyaman, hangat penuh cinta dan tenang. Tidak seperti di rumahku yang selalu panas gersang oleh perang dunia antara Papi dan Mami.

Biarpun tinggal di rumah sederhana dan sempit tapi aku selalu mendapatkan kemewahan berbentuk cinta yang diperlihatkan Apak dan Ambu. Meski mereka sibuk mengajar di siang hari mereka masih sempat bercengkrama di beranda saat menunggu adzan Maghrib tiba. Ambu masih sempat menyiapkan sarapan di pagi hari sebelum mereka berdua berangkat ke sekolah. Aku sering memerah pipi saat melihat Apak memeluk dari belakang Ambu yang sedang sibuk menyiapkan sarapan. Atau Ambu yang mencium mesra pipi Apak saat mau berangkat mengajar. Saat mereka mengobrol di teras belakang seperti orang sedang pacaran. Kalau kehadiranku ketahuan, mereka akan memanggilku untuk bergabung. Sambil memeluk hangat bahuku menanyakan apa saja yang kulakukan seharian. Benar-benar sebuah kemewahan yang tak bisa Papi dan Mami belikan untukku.

Seperti itulah rumah yang selalu kurindukan. Bukan rumah mahal nan luas lengkap dengan perabotan mahal dan aneka kecanggihan teknologi. Tapi begitu miskin akan kehangatan keluarga. Rumah yang selalu kosong dari  cengkrama canda tawa dan bincang-bincang manis. Sepi karena masing-masing penghuninya jarang pulang dan sibuk sendiri. Sekalinya ramai pasti oleh sebuah pertengkaran yang menyesakkan.

"Ada pertunjukan teater di pasar seni" kata Apak suatu hari.

"Malas ah pak.." sahutku. Selama di Tasik aku memang lebih suka dirumah saja. Menghabiskan hari dengan membaca atau melukis sambil menunggu Ambu pulang mengajar yang biasanya lebih cepat dari Apak.

"Ayolah..sesekali keluar rumah. Bergaul dengan tetangga" bujuk Apak "Nanti Apak suruh Eneng dan Bagas menemani yah"

Akhirnya jadilah malam itu aku pergi ke pasar seni. Dan disitulah aku berkenalan dengan salah seorang pemain teaternya. Phoe. Lelaki sederhana yang enak diajak ngobrol apa saja. Mulai dari teater, melukis, naik gunung, dugem bahkan sampai ngobrol tentang politik dan kehidupan.

Dia juga suka chatting dan kami melanjutkan hubungan via medsos. Dengan bergabung di sebuah situs pertemanan karya anak bangsa kami jadi lebih sering terhubung. Saling mengisi, saling support dan saling cinta.

Jarang bertemu bukan masalah bagi kami selama masih ada internet yang menjadi titian yang menghubungkan kami. Sesekali kami bertemu di pasar seni. Menonton teater atau ke galeri lukis. Kadang janjian lari pagi minggu bersama dan bersepeda menikmati pemandangan dari kaki gunung Galunggung.

Berteduh di saung mang Ojo saat kehujanan pulang dari mengantar makanan buat ibunya di sawah. Hujan yang sering membuatku ketakutan jadi terasa bagai nyanyian indah saat bersamanya.

"Katanya petualang..pendaki gunung bengal..kok takut sama hujan" godanya.

Kalau hujan gerimis sih aku suka tapi kalau hujan deras bikin perasaanku kacau balau. Seperti ada trauma kesepian dan ketakutan begitu. Phoe memeluk bahuku, mengusap lembut rambutku.

"Dengar ya Anne sayang...hujan itu bahasa kerinduan langit pada bumi.
Dengarkan gemericiknya saat menyentuh tanah, gelegar gemuruh dan kilasan cahayanya. Semua itu curahan  gelora rindu. Nikmati saja..dan hangatkan hati mu"

Lalu dia teriak kencang "Aaaaaannnn"
"Nah, lain kali saat kau takut hujan ingatlah ada suaraku memanggilmu ya Ann"

Sejak itu,  setiap kali hujan turun dan petir menggelegar aku mengubah rasa takutku dengan mengingat kata-kata Phoe. Dan mencari suaranya memanggil namaku di sela rinai hujan.

Dibalik sosoknya yang kekar dengan rahangnya yang kokoh, sikapnya yang keras, tegas dan dingin tersimpan kelembutan dan kehangatan. Dan aku menyukainya dengan sangat. Menikmati caranya memberi perhatian, caranya bersabar menghadapi kebawelanku dan sikapku yang sering berubah sesuai mood.

" Saat kita merasa haus dan gelas-gelas kosong tak ada yg mengisi. Kitapun
saling menuang minuman..entah itu air putih, kopi, jamu, es jeruk, bahkan
bir. Begitulah cinta kita, sayang"

Itu yang ditulisnya buatku di medsos. Tak ada yang tahu itu ditujukan buat siapa. Begitulah cinta kami saat itu. Saling mengisi. Silahkan artikan sendiri tentang air putih, kopi, jamu, es jeruk dan bir itu.

Apak dan Ambu tidak mempermasalahkan saat tahu aku berpacaran. Mereka menganggap itu normal saja selagi kami masih dalam batas-batas wajar. Apalagi mereka mengenal Phoe sebagai pemuda yang baik. Jadi mereka biasa saja memberitahu kakak saat kakak menanyakan kabar tentangku. Lain hal dengan kakakku yang punya pandangan berbeda. Hal itu dianggapnya akan merusak seluruh rencana yang sudah dirancangnya untukku. Akhirnya aku dipaksa pulang. Tidak tanggung-tanggung, langsung ke Pangkalpinang. Tidak boleh lagi tinggal di Bandung.

Tak ada yang bisa menghalangi keinginan kakak. Apak dan Ambu juga menyerah. Tanpa sempat berpamitan dan bertemu lagi dengan Phoe aku di lempar pada neraka sunyi di Pangkalpinang. Bahkan tidak lagi bisa menghubunginya via internet. Semua gadget yang bisa internetan disita. Bahkan keluar rumah pun aku dikawal. Buhhh...

Satu, dua, tiga dan empat tahun berlalu. Ternyata dunia masih belum berakhir. Waktu masih terus berputar dan rerumputan masih terus bertumbuh. Aku nyaris melupakan Phoe. Tapi masih teringat padanya sesekali. Meski tidak lagi dengan rasa sakit. Mungkin juga demikian dengan Phoe.

Situs tempat kami biasa kontak sudah down. Para user mulai berpindah ke situs yang mulai booming. Disitulah aku dan Phoe kembali saling menemukan. Dalam situasi dan kondisi yang jauh berbeda. Aku sudah menikah. Tapi dia masih saja melajang.

"Biarkan aku menikahimu di dunia maya, jadilah istri cyberku Anne" rengeknya suatu ketika.

"Di dunia yang bisa kita setting sesuka kita, melepaskan semua yang ada di dunia nyata, menjadi siapa sesuka kita. Kamu tanpa suami mu dan aku tanpa kekasihku"

Setelah bertahun-tahun Phoe..kenapa kamu masih begitu. Aku tak bisa Phoe. Maafkan aku.

Phoe bahkan hampir memutuskan hubungan dengan kekasihnya. Karena tak tahan selalu membandingkan kekasihnya itu denganku. Membandingkan bagaimana dulu kami berpacaran. Lebih parahnya lagi Phoe bahkan berniat tidak akan pernah menikah di dunia nyata selamanya. Sementara usianya sudah termasuk terlambat untuk menikah. Dan ibunya yang menua sudah lelah menunggunya melepas masa lajang.

Aku berusaha menasehatinya bahwa hubungan kami ini tidak sehat untuk diteruskan. Kita adalah bagian dari dunia nyata. Betapa pun indahnya dunia maya itu tetaplah maya. Bukan Rina  atau Asti..ehhh..

Sampai kemudian aku di-inbox calon istrinya dan akunku di blokir. Lalu tussss..putuslah (lagi) hubunganku dengan Phoe. Teman-teman dari situs yang dulu juga bilang Phoe menghilang dari dunia cyber setelah postingan terakhirnya, sebuah foto pernikahan yang tidak bisa kulihat karena aku kena blokir. Ketika Lala memberitahuku aku hanya tersenyum dan berdoa semoga Phoe bahagia dengan dunia nyatanya.

"Mii..." sebuah sapaan lembut membuyarkan lamunanku nan panjang. Sehelai kain hangat dibalutkan ke tubuhku. Dan sebuah lengan kokoh melingkar di bahuku. Aku hanya menoleh sekilas dan menghela nafas panjang.

"Mimi nglamun apa..dingin di sini Mi, nanti rhinitis-mu tambah parah lho..Yuk mending temani pipi ngopi"

Sepasang tangan mungil yang lembut menarik-narik lenganku sambil merengek manja.

"Mimiii...ayo kita main ular tangga sama pipi. Mimiii...ayoo miii"

Aku berbalik menatap wajah dua lelaki penuh cinta di hadapanku lalu beranjak ke ruang keluarga meninggalkan kaca jendela yang masih basah terpercik hujan. Meninggalkan suara hujan yang sayup sayup meneriakkan namaku...

#amimustafa

Terimakasih atas kunjungan Anda di Q-BERITAKAN. "Bagi yang Berminat menulis di Q-BERITAKAN?. Punya Pengalaman Unik dan Menarik, atau ingin Berbagi Cerita, Berita, Informasi, Senibudaya dan informasi lainya. Silahkan Kirim tulisan anda ke e-mail: prasetyo.budi3@gmail.com atau Melalui Contact Us di bagian atas.
Share on Google Plus

About Admin bos

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Post a Comment