GOWES JELAJAH MANJANG MERAH

Q Beritakan. Gelap masih menyelimuti Pangkalpinang kala kesibukan di Sekretariat Pangkalpinang Cycling Communitty (PCC) yang berlokasi di Jl. Jendral Soedirman Pangkalpinang Bangka Belitung sudah memecah keheningan pagi. Berjejer sepeda disusun rapih di mobil bak terbuka. Sambil menunggu goweser ISSI Bateng dari Koba yang sedianya akan ikut bergabung dalam Gowes Jelajah Manjang Mirah, 22 Mei 2016. Setelah semua peserta gowes yang berjumlah 34 orang berkumpul kami berangkat menuju Simpang Lumut di Riau Silip, Belinyu, Bangka Belitung.

Sampai di Simpang Lumut kami menitipkan mobil di halaman rumah penduduk dan menurunkan sepeda-sepeda siap untuk menjelajah. Sebelum berangkat, briefing dan peregangan otot sejenak lalu cuss meluncur ke TKP. Cuaca agak sedikit mendung jadi kulit tidak terbakar matahari dan gowes jadi asyik sekali. Perjalanan menuju ke Air Terjun Manjang Merah diperkirakan akan sejauh 15km bersepeda di jalan raya dan 2km hiking. Sepeda dikayuh perlahan agar tetap beriringan dua baris. Tiba di jembatan Perimping kami menyempatkan untuk foto-foto dulu. Wah harus sempat donk sembari menikmati tenangnya arus sungai dan suasana pagi yang manis.




Setelah photo session yang penuh gelak canda tawa selesai perjalanan dilanjutkan kembali. Mendekati area tujuan pemandangannya jadi makin indah dengan penampakan Gunung Maras yang eksotis dan pagi ini terlihat sedikit misty dengan sapuan kabut dan awan putih di wajahnya. Rasanya ingin teriak kencang..I love youuuuuu....Maklum di Bangka agak jarang ada penampakan hijau pegunungan.
Saking semangatnya gowes sampai-sampai titik kumpul di Desa Berbura untuk koordinasi dengan penunjuk jalan jadi terlewat.Terpaksa balik lagi sementara hujan mulai turun rintik-rintik. Penunjuk jalannya adalah penduduk setempat yang mengenal baik rute masuk ke Air Terjun Manjang Merah. Sekedar info, di kaki Gunung Maras ini ada beberapa air terjun seperti Lakedang dan Dalil. Nah, Manjang Merah ini rutenya baru saja ditemukan dan belum banyak yang tahu. Setelah mendengarkan pengarahan dari penunjuk jalan kami melanjutkan perjalanan dibawah rintik hujan yang kian menderas.

Tepat dimulut jalan setapak menuju Manjang Merah kami dihentikan oleh seorang lelaki yang tampaknya sesepuh kampung yang  keberatan kami memasuki kawasan Manjang Merah. Apalagi di situ terpasang kayu peringatan yang  melarang pengunjung untuk masuk ke dalam kawasan Manjang Merah. Hal ini dikarenakan cuaca buruk dan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Mengingat jalan menuju kesana juga lumayan ekstrim. Kebetulan beberapa hari sebelumnya ada kecelakaan yang menyebabkan korban meninggal karena terjangan air bah yang tiba-tiba datang akibat curah hujan tinggi. Walaupun kejadian itu tidak tepat terjadi di Manjang Merah tapi di kawasan air terjun yang lain.

Rekomendasi : 

Waduh...sempat kebat-kebit juga khawatir tour Manjang Merah ini batal karena larangan sesepuh kampung. Apalagi kampung di area Gunung Maras ini termasuk kampung yang punya banyak kearifan lokal yang masih kuat terjaga. Kami berusaha meyakinkan sesepuh itu untuk menjaga diri dan mengikuti aturan kampung yang berlaku seperti menjaga sopan santun dan mawas diri serta mengedepankan keselamatan. Alhasil sang sesepuh kampung memberikan persetujuan bagi kami untuk melanjutkan perjalanan bahkan beliau bersedia mengawal perjalanan kami...yahuuuu...the trip goes on...
Memasuki jalan setapak para gowesser beriringan satu persatu. Treknya mantap badaiii. Becek berlumpur pasir dan berkubangan. Beberapa titik yang rusak parah jalannya dilapisi kayu melintang rapi. Kiri kanan jalan kebanyakan belukar dan perkebunan penduduk. Mengingat treknya berpasir seperti itu akan lebih nyaman kalau goweser memindahkan rantai ke gigi ringan. Karena ada jalur becek yang lumayan panjang kalau pakai gigi yang berat akan sulit menguasai medan. Dan hati-hati saat melindas kayu titian memanjang karena licin dan bikin kepeleset lebih baik langsung ambil jalur tengah yang melintang.

Sebelum sampai ke tempat parkiran di dalam hutan kami sempat melintasi sungai yang jerniiih dan cukup dalam sekitar selutut  tapi tetap bisa dilewati dengan mendorong sepeda. Tidak lupa cekrak cekrek dulu. Lanjut lagi dengan sesekali menggendong sepeda saat terhalang pohon-pohon roboh yang melintang di jalan setapak. Tiba di tempat parkir sepeda sejenak kami berkumpul sambil menunggu teman-teman yang masih tertinggal. Sang penunjuk jalan menyarankan kami untuk memakai 'resam' sejenis tumbuhan paku-pakuan;   dengan mengikatkannya dipergelangan tangan seperti gelang. Katanya sih untuk mencegah hal-hal diluar nalar terjadi. Isi resam itu seperti tanda pengenal begitu lah supaya kita tidak diganggu oleh penghuni tak kasat mata Manjang Mirah. Ya sudah pakai sajalah..lagian jadi keren dan etnik gitu :D Oya, Resam ini juga terkenal sebagai bahan anyaman pembuat kopiah khas Bangka lho.

Setelah semua rombongan lengkap kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki menelusuri jalan setapak yang sempit dan masih kurang jelas karena belum sering dilewati. Nah, sekedar saran kalau mau naik ke Manjang Merah sebaiknya gunakan sepatu sport untuk lari. Lebih baik lagi kalau menggunakan sepatu gunung yang low cut. Jadi tetap nyaman buat gowes dan enak dipakai tracking atau hiking. Intinya mah pakai sepatu dengan sol yang bertekstur kasar dan banyak kembangnya. Hal ini akan sangat terasa berguna karena medan yang kita daki adalah tanah licin ataupun berpasir. Tak jarang kami harus mendaki bebatuan dan berpegangan di dahan pohon atau akar pohon yang menjuntai. Awas ya jangan sampai salah memegang akar berduri. Semakin mendekati air terjun kami berjalan semakin ke pinggiran sungai. Gemericik air dan sejuknya udara membuat perjalanan terasa indah. Tinggal sedikit lagiii...mulai masuk ke aliran sungai. Hati-hati disini bebatuannya licin. Tapi trek air ini tidak terlalu jauh karena 500 meter di depan suara debur air makin kencang dan tralalalaaaa... The Manjang Merah Waterfall tingkat kedua. Air terjun yang tidak terlalu tinggi tapi kelihatan sangat unik karena seolah jatuh dari langit-langit goa. Airnya bening kemerahan seperti merah teh.

Rasanya terbayar sudah lelah letih lesu dan lemah dan acem keringat. Para goweser tanpa babibu lompat ke kolam setelah menurunkan suhu tubuh dan mengamankan hp masing-masing. Widiiiw...dinginnya air pegunungan langsung menyegarkan seluruh tubuh. Gelak canda tawa merobek kesenyapan hutan. Main air, lompat-lompatan dan siram-siraman membuat suasana makin akrab dan hangat. Tukang foto tetap standby mengabadikan situasi. Sang pemandu dengan sabar menunggu. 

Ternyata perjalanan belum tuntas. Masih ada air terjun lain diatas sana. Dan treknya sungguh aduhai. menanjak tajam disela bebatuan menyeruak hutan. Karena sudah lumayan letih dan terlalu asyik menikmati air terjun yang kedua maka kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke Manjang Merah pertama. Apalagi kami masih menunggu satu rombongan kecil yang terlambat tiba karena mengawal seorang teman yang kena masalah pernafasan. Tapi ada beberapa dari kami yang melanjutkan naik ke atas.

Sejenak hiruk pikuk kegembiraan para goweser tiba-tiba senyap. Ketika masing-masing sibuk menyantap makan siang. Makan siang sederhana yang kami pesan pada penduduk setempat yang bersedia ikut pendakian membawakan makan siang kami. Wihh..sedaaap banget makan saat lapar dan kedinginan di pinggir sungai bening dengan alunan indah debur air terjun yang mendera bebatuan.

Saking senangnya menikmati pesona Manjang Merah rasanya benar-benar enggan pulang. Akhirnya waktu kepulangan melorot dari rencana semula. Dengan berat hati dan berat langkah :D kami beranjak pulang dan say goodbye to Manjang Merah. Perjalanan pulang jadi lebih lambat dari saat berangkat tadi karena selain jalanan jadi lebih licin oleh hujan tenaga pun sudah mulai berkurang karena  kelelahan. 

Sepeda-sepeda kembali dikayuh lambat-lambat. Wah..para sepeda sudah dekil. Tapi gagah dan bangga sudah diajak tuannya berkelana menjelajah Manjang Mirah yang mempesona. Sampai di jalan raya ada yang singgah sejenak untuk dicuci. Sebagian lanjut ke tempat parkir mobil di Simpang Lumut. Lalu kembali di loading dan meluncur ke Pangkalpinang.

Tiba kembali di Sekretariat PCC hari mulai gelap, rata-rata wajah sudah mulai lecek kelelahan. Tapi di dada terselip sejuta kegembiraan. Semoga lain kali bisa kembali ke Manjang Merah sampai ke Air terjun pertama yang menurut teman-teman yang tadi kesana lebih indah dan lebih unik lagi. Nah, siapa tertarik ikut? Kami selalu terbuka menerima teman gowes dari mana saja yang ingin bergabung bersama kami berbagi indahnya bersepeda. Masih banyak tempat menarik di Bangka Belitung yang bisa kita eksplore bersama. Mau bersepeda ke Bangka Belitung? let's contact and joint Pangkalpinang Cycling Community. Salam sejuta sepeda!
#amimustafa,2016/05/23

Terimakasih atas kunjungan Anda di Q-BERITAKAN. "Bagi yang Berminat menulis di Q-BERITAKAN?. Punya Pengalaman Unik dan Menarik, atau ingin Berbagi Cerita, Berita, Informasi, Senibudaya dan informasi lainya. Silahkan Kirim tulisan anda ke e-mail: prasetyo.budi3@gmail.com atau Melalui Contact Us di bagian atas.
Share on Google Plus

About Admin bos

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

3 komentar:

  1. Gowes beramai-ramai
    Rasanya seru dan damai

    ReplyDelete
  2. Gowes bersama-sama
    Hati gembira badan sehat
    Saya hadir ingin kenal anda
    Siapa tahu mau bersahabat...

    ReplyDelete
  3. Muaranya ke aer terjun kliatannya langsung seger smua ya setelah berkeringat ngegowes

    ReplyDelete